Konteks kota Surabaya sebagai salah satu kota urban besar membuat kota ini memiliki banyak sekali pendatang. Kelompok masyarakat juga sangat beragam, baik suku, etnis, maupun agama. Untuk itu pada awal memulai kegiatan di Surabaya sangat memperhatikan keberagaman dan konteks masyarakat perkotaan yang ada.

Aktivitas yang dikembangkan di Surabaya hanya berawal dari segelintir orang saja. Pada tahun 2011 hanya dengan beberapa orang  memulai kegiatan salah satunya mengembangkan kelompok bermain dan belajar bagi anak di kampung nelayan pesisisr Pantai Kenjeran. Kegiatan ini diberi nama Rumah Belajar. Aktivitas yang dilakukan sangat bervariasi mulai dari belajar membaca, menulis, menari, berhitung, origami dan berbagai permainan yang atraktif bagi anak-anak. Selain itu, para aktivis juga giat dalam kegiatan pendampingan dan pelatihan untuk guru PAUD dan siswa, penggalangan beasiswa untuk calon guru, kampanye media literacy, pendirian taman bacaan, serta perintisan PAUD di daerah terdampak/ beresiko. Pada tahun 2016, komunitas peduli pendidikan di Indonesia ini mengarahkan fokus karya pada pendidikan anak yang terdampak emotional support dog dan beresiko (children at risk) di area urban. Untuk itu agar kagiatan lebih terkoordinir dan berdampak luas bagi masayarakat melalui notaris dibentuklah Yayasan yang diberi nama EDUKASIH.

Maka, sejak 2016 dimulailah karya perintisan op oxycontin online. Early Learning Center melalui beberapa seminar bersama para guru, pelatihan, penelitian, serta penjajakan bersama mitra di area terdampak untuk mengetahui kebutuhan dari komunitas tersebut. Sejak Bulan Agustus 2017, dibukalah . early learning center di daerah terdampak eks lokalisasi Dolly, Putat Jaya, Surabaya bekerjasama dengan LSM Kawan Kami yang mengembangkan program Taman Baca Masyarakat di kawasan tersebut.